Postingan

Euthanasia

Gambar
                              Bayangan suram itu pada akhirnya berani kembali  Hidup dan menghidup udara dari seonggok daging yang tak serupa sebelumnya Ia memelukku begitu erat hingga tercekat Namun masihlah sama, ia gelap, jahat, dan membuatku bergidik ngeri barangkali kini tak ada yang sanggup melukisku selain rasa takut            Aku tak pernah ingin bergumul dalam perseteruan ini Antara otak dan nurani yang saling melukai Aku sendiri tlah begitu lelah hanyut dalam perasaan-perasaan tak terprediksi Kerap kalinya jemariku ingin lancang membunuh perasaan yang perlahan tumbuh, Kejam memang, Namun lebih baik tinimbang kesekian kalinya harus kembali lebam, karena sosok yang membuatku gamang                           

Transient

Gambar
                           Sepertinya baru kemarin segala sesuatu nampak begitu sempurna. Sejenak aku terlupa bulan-bulan lalu yang dipenuhi duka, lara, dan nestapa. Sepertinya baru kemarin tawa-tawa usang kembali terlahir. Hingga pada titik ini aku kembali dihantam kenyataan bahwa tak ada satupun yang selamanya di dunia. Pelangi-pelangi elok itu berakhir sudah, digantikan setetes hujan yang kian menderas. Lika-liku menyenagkan itu ternyata fana. Kanvas penuh gores kebahagiaan itu pun turut luntur. Tawa-tawa kita pada akhirnya terasa begitu hambar dan luntur. Habis sudah semua dilahap waktu dan resah.           Kini aku tahu, kau tak jauh berbeda dari sosok-sosok lainnya yang singgah paa hidupku. Pada satu titik, kusadari akan ada waktu untukmu kembali pergi. Dan pada akhirnya kita akan kembali menjadi sepasang manusia asing dengan tumpukan kenangan yang begitu aneh. Karena aku ...

Mambaur

Gambar
Perasaan paling janggal ialah saat aku tak pernah tahu ternyata kau telah begitu lama hidup dalam diriku. Dengan sosok raga yang tak lagi sanggup kuraba, sorot yang lagi mampu kuselami, dan jemari yang tak mampu lagi kusentuh barang seinci. Sudah seberapa lama kau hidup dalam diriku, Tuan? Dan aku bagai sesosok inang yang tak sadar telah kehilangan jutaan perasaan yang seharusnya mampu menghidupiku lebih panjang. Biar sekali lagi kutanyakan, sudah berapa lama kau mendekam dalam lubuk paling dalam itu, Tuan? Menyeret habis semua peluang dan membuatku terjebak dalam kelamnya lubang kenangan. Bodohnya, aku tak pernah sadar ternyata kau turut mendewasa bersamaku. Serpihan memoar masa lalu itu ternyata tak pernah sungguhan kusapu bersih. Justru kini ia kembali tercetak sempurna dalam kepala, lengkap dengan sosokmu yang mengumbar senyum jumawa. Entah mengapa aku baru tersadar bahwa kau nyaris menghabiskan separuh hidup dan kewarasanku selama ini, Tuan. 

Kesuma

Gambar
Untuk Kesuma, yang hampir mati ditangan para bajingan Tetaplah bernyawa meski dihimpit derita Sudut gelap itu terlalu senyap Pekat diselimuti hitam yang membuatmu pengap Sudut indah itu kini tak lagi kau kenali Ia begitu asing, kosong, dan menyimpan seberkas ngeri Kesuma hidup di dalamnya dengan napas satu dua yang hampir berhenti Raut eloknya masihlah sama Namun terpancar luka pada dua manik bola matanya Kesuma masih bersemayam pada raga indahnya, namun seolah jiwanya t'lah mati tanpa nadi Ada yang koyak dalam dada Kesuma Ada jari-jemari yang mencengkeram lengannya hingga membiru, Lantas bergerak naik mencekik lehernya, begitu keras seolah melarang hidungnya menghidu Seberkas senyuman bengis terlintas, serakah benar hendak melahapnya hingga habis "Bajingan" kata itu lolos dari sudut bibir Kesuma Dibuntuti isak tangis pilu yang tak kunjung sirna Sayatan tak kasat mata berhasil memporak porandakan si puan jelita, Hingga kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya, ia tersuru...

Yogyakarta

Gambar
Terbawa lagi langkahku kesana Mantra apa entah yang istimewa Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja Dengar lagu lama ini katanya Izinkan aku pulang ke kotamu Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja Sebait syair lagu berjudul 'Sesuatu di Jogja' karya Adithia Sofyan akhirnya mengantarkanku kembali singgah di kota ini. Kota yang sebenarnya hanya berkisar 1 jam jika ditempuh dengan kereta api dari tempat kelahiran. Aku lupa kapan terakhir kali menjejakkan kaki di stasiun dan menyandarkan bahu pada bangku-bangku kereta. Sepertinya sudah cukup lama saat usiaku masih belasan. Kenangan-kenangan Malioboro dan gudegnya pada pukul 6 pagi sepertinya sudah hampir pudar dari kepalaku. Sudah lama sekali rasanya, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar dan masih suka merengek untuk berlibur ke Taman Pintar pada orang tuaku.  Akhir tahun ini saat usiaku 19 hendak menuju 20 akhirnya aku kembali berkesempatan mengamati peron kereta yang penuh namun tak lagi sesak. Ya, beberapa hari kemarin ak...

It's Always You

Gambar
  Saya baru saja kebingungan hendak melakukan apalagi. Kamu pasti paham betul kalau saya adalah manusia paling gabut di dunia ini. Saya selalu mengeluh begitu setiap kali kita mengobrol. Dan setiap kali saya mulai menyapamu setelah sekian lama, kamu selalu bertanya pertanyaan yang sama.       "Kamu pasti lagi gabut ya?"     Sebuah pertanyaan yang tak asing bagi saya. Malam ini saya memutuskan untuk menulis sesuatu, setelah beberapa menit lalu tenggelam pada tulisan milik Rintik Sedu. Kisah-kisah tentang Geez dan Ann yang tidak pernah mati. Tsana hebat, membuat Geez tetap hidup dalam dunianya. Sampai saya menyadari sesuatu, ternyata saya tidak jauh beda dari Tsana. Saya ingat tulisan pertama yang saya buat untukmu. Tulisan yang menjadi saksi seorang gadis 15 tahun begitu sok tahu soal patah hati. Sudah hampir empat tahun saya berusaha keras untuk lupa. Bagi saya perasaan itu sebatas cinta monyet biasa. Tapi semakin saya mencoba semakin saya sendiri...

Pembuka dan Penutupnya ialah Aku Sendiri

Gambar
Didedikasikan untuk puan yang tengah bergulat dalam kesendirian, luka, dan pengharapan tanpa akhir. Aku hanya ingin bicara, kau tidak lagi sendirian karena diantara jutaan puan lain ada yang serupa denganmu. Dongengku Sendiri   Pada senyap malam aku bersaksi dalam kosong, Bicara pada longkang tempat tidur berdebu yang bisu Mengumbar senyuman pada gelap yang bergelut pengap Kukisahkan sepanjang malam tentangmu, Tanpa pernah berani menyebut siapa aku   Aku si pendongeng, Si pendamba akhir kisah bahagia Dan semesta, si pemiliki kisah milyaran makhluknya Dan ia tuliskan dengan penanya, Adalah kau si penawar pekatnya lara   Kau sebatas penawar bukan yang abadi Kau yang dikirim semesta untuk singgah lantas diminta pergi Aku si paham akan segala gulana dan kesakitan Aku si paham akan segala fana dan ketidakmungkinan Dan aku pula si paham bahwa denganmu tiada boleh ada barang setitik pengharapan   Lantas mengapa kau masih terus kudongengkan pada malam? Ku puji betapa senyumm...