Postingan

Saling Bertaut Lara Kita

Gambar
Boleh aku rengkuh tubuh ringkihmu? Tolong jangan, Jangan lagi kau tolak laiknya tahun-tahun lalu Kau sudah bagai sesosok belulang rapuh Sorotmu tak lagi pancar Pelangi pada bola matamu sudah sempurna pudar Aku tlah kehilangan liat dan lincahmu Ragamu pula menjelma serakan kering yang kehilangan arah mata angin Puan... Aku tak pernah takut cantikmu suatu hari kan pudar Entah, serupa apa lusuhmu kau tetap secantik dulu Tapi jauh lebih menakutkan daripada itu, Jika esok bahumu luruh, dadamu kehilangan gemuruh Pulanglah, mari, kemari Pada bahu yang penuh pelukku Puan.... Pulanglah, mari, kemari Pada dua daun telingaku Pulanglah, mohonku sungguhan Tak tega aku membiarkanmu terkapar tanpa kesadaran Kisahkan padaku tentang apapun, berat dan kejamnya hidupmu dalam dan perih lukamu Sungguh kisahkan pada daun telingaku apapun Apa-apa yang begitu dalam kau timbun  Meski entah kapan akan berujung  Meski entah kemana hendak bermuara Biar malam-malam kita habis sama-sama menyembuhkan duka, ...

Untuk Bagaskara Wihagaratna

Gambar
Delapan belas tahun aku hidup, Masih singkat atau mungkin terlalu panjang untuk menghidupi dosa-dosaku?   pinterest Halo.... Selamat malam untuk Bagaskara Wihagaratna Bagaimana langitmu malam ini? Mendung atau sedang indah-indahnya penuh bintang? Kau tahu, aku tengah mencoba tertawa detik ini Ya, menertawakan ketidakmungkinan yang dicipta semesta untuk kita Barangkali aku satu-satunya yang tidak waras di sini Bagaimana bisa setiap malamnya aku bertanya apa di universal berbeda aku ini milikmu? Gila! Orang-orang akan bilang begitu karena aku juga menganggap diriku sendiri gila Kau tahu, entah bagaimana bisa semesta membangun sekat-sekat tertingginya diantara kita  Perlu usaha besar untuk mengahancurkannya dan aku yakin aku tak bisa Ada ruang-ruang hampa yang tak mungkin meleburkan kita Iya, kita adalah sebuah bentuk nyata ketidakmungkinan Jikalau mungkin, akan tetap ada jarak Karena kita memang dilahirkan berbeda Bahkan hidung kita turut menghidu aroma udara yang tak serupa Pad...

Parasit

Gambar
  pinterest Hari ini dia kembali. Pulang dengan tangan kosong. Pulang dengan rupa yang sesungguhnya masih sama--seolah tak pernah merasa berdosa. Aku ingat dengan jelas seringainya masih tak berubah. Menyeramkan. Dan bertepatan pula hari ini lidahku tiba-tiba kelu. Tak ada satupun ucap yang keluar dari sana. Entah, mendadak aku selayaknya orang gagu. "Hai apa kabar?" sayup-sayup kudengar suaranya bergema dalam gendang telingaku. Bulu kudukku meremang seketika. Suara-suara itu juga masih sama. Ada cekikik mencemooh selanjutnya. "Bagaimana, rindu denganku tidak?" suaranya lagi. "Aku pulang pada rumahku hari ini. Hihihihihihi," tawanya membuatku jengkel. "Ayo main denganku. Kamu tidak rindu dengan permainan-permainan kita?"  Mataku tengah menerawang kosong pada jendela. Hujan diluar sana kian menderas menyisakan embun basah di kaca jendela. Abu-abu, entah di luar atau di dalam kenapa semuanya menjadi buram. Detik itu rasa was-was menyelimutiku. Jema...

Dunia Antah Berantah dalam Kepala (2)

Gambar
Ya, aku selalu menjadi satu-satunya manusia yang ada namun barangkali tak terlihat. Atau mungkin aku ternyata dilahirkan sebagai sampah plastik bening yang transparan. Semua manusia di rumah ini seperti mengabaikanku. Tapi aku selalu berpikir barangkali saat pulang ke rumah mereka sudah teramat lelah untuk mengajakku bicara dan saat pagi hari mereka terlalu sibuk untuk menyiapkan harinya hingga melupakan bahwa aku seharusnya juga menjadi salah satu penghuni meja makan ini. Tapi peduli setan, aku lebih memilih berjalan ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi kemudian sarapan sendirian. Lagi-lagi mataku menerawang keluar jendela. Aku ingin jadi langit, batinku begitu saja. Sepertinya seru jadi langit, setidaknya kamu bukan pengangguran bukan? Kamu bisa menjadi biru indah, kelabu, oranye, atau sebatas hitam. Kamu bisa selalu ada tanpa dilupakan keberadaannya. Untuk kali keskian aku menghela napas berat. Sudah macam orang banyak masalah saja padahal ya hidupku begini-begi...

#Cerpen02 Dunia Antah Berantah dalam Kepala

Gambar
Suatu pagi saat cahaya mentari menerobos kisi-kisi jendela kamar, aku terbangun dengan kepala luar biasa sakit. Separuh nyawaku seperti entah lenyap kemana. Mataku yang sayu setengah mengantuk menatap pada langit biru yang disepuh gumplan-gumpalan awan lembut dibalik kaca jendela. Aku seorang pengangguran. Satu-satunya manusia yang hidup di rumah tua ini yang tak memiliki pekerjaan. Dari ketiga saudaraku hanya aku yang masih menyantap sesuap nasi dari hasil keringat bapak dan ibu. Hari-hariku terlewati dengan biasa, hambar seperti kekurangan bumbu. Terkadang aku berharap hidupku terlalu pedas, asin, atau pahit. Tak mengapa daripada tak memiliki rasa sama sekali, ini sungguh membosankan. Kalau manis sih tentu itu sangat tidak mungkin bagiku. Dan pagi ini aku mengerang sembari memijit pelipisku. Sungguh sakit kepala seperti ini tidak pernah kurasakan sebelumnya. Seperti ada godam yang menghantam kepalaku ribuan kali. Dengan sedikit limbung aku melangkah keluar kamar berjalan menuju d...

Untuk Tuan Hitam

Pertemuan Suram   Di lorong-lorong paling gelap Gaung-gaung suram direkat oleh pengap Ada ruang sesak yang barangkali sanggup menciutkan nyali Dinding-dinding penuh semak berduri, yang justru menjadi sebuah ruang temu Aku dan kau Tidak ada yang dibicarakan selain kesialan-kesialan Ucapku barangkali telah sanggup merusak gendang telingamu   Kau berbisik selanjutnya, “Ini pertemuan paling suram” Sisanya hanya aku dan….. kau memilih hengkang     Kanvas Hitam   Kau suka warna-warna Pelangi pada kanvas putih yang kau sapukan Tapi barangkali sebuah pertemuan suram, pada akhirnya membawa sebuah kanvas hitam Kanvas putihmu kehilangan objek lukisnya Warna-warnamu pudar, telah serupa cat murahan yang luntur oleh air mata Dipaletmu hari ini kulihat hanya sebatas hitam, yang lalu kau sapukan penuh pada kanvas kosong Aku telah menjelma ribuan kesialan dan kanvas hitam penuh rapalan duka    

Kangen Liburan

Gambar
Definisi kangen liburan yang sesungguhnya tuh ada saat ini. Tiga bulan di rumah aja, tiap hari nggak punya kegiatan apa-apa. Bisa dibilang liburan, ya liburan dari sekolah offline, kerja offline. Tapi bukan bener-bener libur. Gue ngerti semua orang saat pandemic kayak gini tuh, pasti kangen banget sama yang namanya liburan keluar rumah. Main-main jauh, ngumpul-ngumpul, ngeliat alam, apapun yang selama ini biasa aja. Sama, gue juga kangen liburan. Pengen maen sama temen, pengen ngeliat air. Sumpah kangen banget sama pantai, kangen makan seafood. Ahhh yaudahlah mau gimana lagi. Pantai Pandawa, Bali Jadi inget setahun yang lalu, abis lebaran gitu bisa study tour ke Bali-Lombok. Sekarang mah keluar kota juga masih was-was. Walaupun udah digaung-gaungin sama pemerintah new normal. Tapi ya sama aja, virus nggak bisa dideteksi. Eh, takutnya entar malah kenapa-kenapa. Waktu itu gue memutuskan ikut study tour dari sekolah soalnya pengen aja jalan-jalan jauh keluar pulau. Sebenernya ini nggak wa...