Postingan

It's Always You

Gambar
  Saya baru saja kebingungan hendak melakukan apalagi. Kamu pasti paham betul kalau saya adalah manusia paling gabut di dunia ini. Saya selalu mengeluh begitu setiap kali kita mengobrol. Dan setiap kali saya mulai menyapamu setelah sekian lama, kamu selalu bertanya pertanyaan yang sama.       "Kamu pasti lagi gabut ya?"     Sebuah pertanyaan yang tak asing bagi saya. Malam ini saya memutuskan untuk menulis sesuatu, setelah beberapa menit lalu tenggelam pada tulisan milik Rintik Sedu. Kisah-kisah tentang Geez dan Ann yang tidak pernah mati. Tsana hebat, membuat Geez tetap hidup dalam dunianya. Sampai saya menyadari sesuatu, ternyata saya tidak jauh beda dari Tsana. Saya ingat tulisan pertama yang saya buat untukmu. Tulisan yang menjadi saksi seorang gadis 15 tahun begitu sok tahu soal patah hati. Sudah hampir empat tahun saya berusaha keras untuk lupa. Bagi saya perasaan itu sebatas cinta monyet biasa. Tapi semakin saya mencoba semakin saya sendiri...

Pembuka dan Penutupnya ialah Aku Sendiri

Gambar
Didedikasikan untuk puan yang tengah bergulat dalam kesendirian, luka, dan pengharapan tanpa akhir. Aku hanya ingin bicara, kau tidak lagi sendirian karena diantara jutaan puan lain ada yang serupa denganmu. Dongengku Sendiri   Pada senyap malam aku bersaksi dalam kosong, Bicara pada longkang tempat tidur berdebu yang bisu Mengumbar senyuman pada gelap yang bergelut pengap Kukisahkan sepanjang malam tentangmu, Tanpa pernah berani menyebut siapa aku   Aku si pendongeng, Si pendamba akhir kisah bahagia Dan semesta, si pemiliki kisah milyaran makhluknya Dan ia tuliskan dengan penanya, Adalah kau si penawar pekatnya lara   Kau sebatas penawar bukan yang abadi Kau yang dikirim semesta untuk singgah lantas diminta pergi Aku si paham akan segala gulana dan kesakitan Aku si paham akan segala fana dan ketidakmungkinan Dan aku pula si paham bahwa denganmu tiada boleh ada barang setitik pengharapan   Lantas mengapa kau masih terus kudongengkan pada malam? Ku puji betapa senyumm...

Saling Bertaut Lara Kita

Gambar
Boleh aku rengkuh tubuh ringkihmu? Tolong jangan, Jangan lagi kau tolak laiknya tahun-tahun lalu Kau sudah bagai sesosok belulang rapuh Sorotmu tak lagi pancar Pelangi pada bola matamu sudah sempurna pudar Aku tlah kehilangan liat dan lincahmu Ragamu pula menjelma serakan kering yang kehilangan arah mata angin Puan... Aku tak pernah takut cantikmu suatu hari kan pudar Entah, serupa apa lusuhmu kau tetap secantik dulu Tapi jauh lebih menakutkan daripada itu, Jika esok bahumu luruh, dadamu kehilangan gemuruh Pulanglah, mari, kemari Pada bahu yang penuh pelukku Puan.... Pulanglah, mari, kemari Pada dua daun telingaku Pulanglah, mohonku sungguhan Tak tega aku membiarkanmu terkapar tanpa kesadaran Kisahkan padaku tentang apapun, berat dan kejamnya hidupmu dalam dan perih lukamu Sungguh kisahkan pada daun telingaku apapun Apa-apa yang begitu dalam kau timbun  Meski entah kapan akan berujung  Meski entah kemana hendak bermuara Biar malam-malam kita habis sama-sama menyembuhkan duka, ...

Untuk Bagaskara Wihagaratna

Gambar
Delapan belas tahun aku hidup, Masih singkat atau mungkin terlalu panjang untuk menghidupi dosa-dosaku?   pinterest Halo.... Selamat malam untuk Bagaskara Wihagaratna Bagaimana langitmu malam ini? Mendung atau sedang indah-indahnya penuh bintang? Kau tahu, aku tengah mencoba tertawa detik ini Ya, menertawakan ketidakmungkinan yang dicipta semesta untuk kita Barangkali aku satu-satunya yang tidak waras di sini Bagaimana bisa setiap malamnya aku bertanya apa di universal berbeda aku ini milikmu? Gila! Orang-orang akan bilang begitu karena aku juga menganggap diriku sendiri gila Kau tahu, entah bagaimana bisa semesta membangun sekat-sekat tertingginya diantara kita  Perlu usaha besar untuk mengahancurkannya dan aku yakin aku tak bisa Ada ruang-ruang hampa yang tak mungkin meleburkan kita Iya, kita adalah sebuah bentuk nyata ketidakmungkinan Jikalau mungkin, akan tetap ada jarak Karena kita memang dilahirkan berbeda Bahkan hidung kita turut menghidu aroma udara yang tak serupa Pad...

Parasit

Gambar
  pinterest Hari ini dia kembali. Pulang dengan tangan kosong. Pulang dengan rupa yang sesungguhnya masih sama--seolah tak pernah merasa berdosa. Aku ingat dengan jelas seringainya masih tak berubah. Menyeramkan. Dan bertepatan pula hari ini lidahku tiba-tiba kelu. Tak ada satupun ucap yang keluar dari sana. Entah, mendadak aku selayaknya orang gagu. "Hai apa kabar?" sayup-sayup kudengar suaranya bergema dalam gendang telingaku. Bulu kudukku meremang seketika. Suara-suara itu juga masih sama. Ada cekikik mencemooh selanjutnya. "Bagaimana, rindu denganku tidak?" suaranya lagi. "Aku pulang pada rumahku hari ini. Hihihihihihi," tawanya membuatku jengkel. "Ayo main denganku. Kamu tidak rindu dengan permainan-permainan kita?"  Mataku tengah menerawang kosong pada jendela. Hujan diluar sana kian menderas menyisakan embun basah di kaca jendela. Abu-abu, entah di luar atau di dalam kenapa semuanya menjadi buram. Detik itu rasa was-was menyelimutiku. Jema...

Dunia Antah Berantah dalam Kepala (2)

Gambar
Ya, aku selalu menjadi satu-satunya manusia yang ada namun barangkali tak terlihat. Atau mungkin aku ternyata dilahirkan sebagai sampah plastik bening yang transparan. Semua manusia di rumah ini seperti mengabaikanku. Tapi aku selalu berpikir barangkali saat pulang ke rumah mereka sudah teramat lelah untuk mengajakku bicara dan saat pagi hari mereka terlalu sibuk untuk menyiapkan harinya hingga melupakan bahwa aku seharusnya juga menjadi salah satu penghuni meja makan ini. Tapi peduli setan, aku lebih memilih berjalan ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi kemudian sarapan sendirian. Lagi-lagi mataku menerawang keluar jendela. Aku ingin jadi langit, batinku begitu saja. Sepertinya seru jadi langit, setidaknya kamu bukan pengangguran bukan? Kamu bisa menjadi biru indah, kelabu, oranye, atau sebatas hitam. Kamu bisa selalu ada tanpa dilupakan keberadaannya. Untuk kali keskian aku menghela napas berat. Sudah macam orang banyak masalah saja padahal ya hidupku begini-begi...

#Cerpen02 Dunia Antah Berantah dalam Kepala

Gambar
Suatu pagi saat cahaya mentari menerobos kisi-kisi jendela kamar, aku terbangun dengan kepala luar biasa sakit. Separuh nyawaku seperti entah lenyap kemana. Mataku yang sayu setengah mengantuk menatap pada langit biru yang disepuh gumplan-gumpalan awan lembut dibalik kaca jendela. Aku seorang pengangguran. Satu-satunya manusia yang hidup di rumah tua ini yang tak memiliki pekerjaan. Dari ketiga saudaraku hanya aku yang masih menyantap sesuap nasi dari hasil keringat bapak dan ibu. Hari-hariku terlewati dengan biasa, hambar seperti kekurangan bumbu. Terkadang aku berharap hidupku terlalu pedas, asin, atau pahit. Tak mengapa daripada tak memiliki rasa sama sekali, ini sungguh membosankan. Kalau manis sih tentu itu sangat tidak mungkin bagiku. Dan pagi ini aku mengerang sembari memijit pelipisku. Sungguh sakit kepala seperti ini tidak pernah kurasakan sebelumnya. Seperti ada godam yang menghantam kepalaku ribuan kali. Dengan sedikit limbung aku melangkah keluar kamar berjalan menuju d...