Postingan

Kesuma

Gambar
Untuk Kesuma, yang hampir mati ditangan para bajingan Tetaplah bernyawa meski dihimpit derita Sudut gelap itu terlalu senyap Pekat diselimuti hitam yang membuatmu pengap Sudut indah itu kini tak lagi kau kenali Ia begitu asing, kosong, dan menyimpan seberkas ngeri Kesuma hidup di dalamnya dengan napas satu dua yang hampir berhenti Raut eloknya masihlah sama Namun terpancar luka pada dua manik bola matanya Kesuma masih bersemayam pada raga indahnya, namun seolah jiwanya t'lah mati tanpa nadi Ada yang koyak dalam dada Kesuma Ada jari-jemari yang mencengkeram lengannya hingga membiru, Lantas bergerak naik mencekik lehernya, begitu keras seolah melarang hidungnya menghidu Seberkas senyuman bengis terlintas, serakah benar hendak melahapnya hingga habis "Bajingan" kata itu lolos dari sudut bibir Kesuma Dibuntuti isak tangis pilu yang tak kunjung sirna Sayatan tak kasat mata berhasil memporak porandakan si puan jelita, Hingga kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya, ia tersuru...

Yogyakarta

Gambar
Terbawa lagi langkahku kesana Mantra apa entah yang istimewa Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja Dengar lagu lama ini katanya Izinkan aku pulang ke kotamu Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja Sebait syair lagu berjudul 'Sesuatu di Jogja' karya Adithia Sofyan akhirnya mengantarkanku kembali singgah di kota ini. Kota yang sebenarnya hanya berkisar 1 jam jika ditempuh dengan kereta api dari tempat kelahiran. Aku lupa kapan terakhir kali menjejakkan kaki di stasiun dan menyandarkan bahu pada bangku-bangku kereta. Sepertinya sudah cukup lama saat usiaku masih belasan. Kenangan-kenangan Malioboro dan gudegnya pada pukul 6 pagi sepertinya sudah hampir pudar dari kepalaku. Sudah lama sekali rasanya, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar dan masih suka merengek untuk berlibur ke Taman Pintar pada orang tuaku.  Akhir tahun ini saat usiaku 19 hendak menuju 20 akhirnya aku kembali berkesempatan mengamati peron kereta yang penuh namun tak lagi sesak. Ya, beberapa hari kemarin ak...

It's Always You

Gambar
  Saya baru saja kebingungan hendak melakukan apalagi. Kamu pasti paham betul kalau saya adalah manusia paling gabut di dunia ini. Saya selalu mengeluh begitu setiap kali kita mengobrol. Dan setiap kali saya mulai menyapamu setelah sekian lama, kamu selalu bertanya pertanyaan yang sama.       "Kamu pasti lagi gabut ya?"     Sebuah pertanyaan yang tak asing bagi saya. Malam ini saya memutuskan untuk menulis sesuatu, setelah beberapa menit lalu tenggelam pada tulisan milik Rintik Sedu. Kisah-kisah tentang Geez dan Ann yang tidak pernah mati. Tsana hebat, membuat Geez tetap hidup dalam dunianya. Sampai saya menyadari sesuatu, ternyata saya tidak jauh beda dari Tsana. Saya ingat tulisan pertama yang saya buat untukmu. Tulisan yang menjadi saksi seorang gadis 15 tahun begitu sok tahu soal patah hati. Sudah hampir empat tahun saya berusaha keras untuk lupa. Bagi saya perasaan itu sebatas cinta monyet biasa. Tapi semakin saya mencoba semakin saya sendiri...

Pembuka dan Penutupnya ialah Aku Sendiri

Gambar
Didedikasikan untuk puan yang tengah bergulat dalam kesendirian, luka, dan pengharapan tanpa akhir. Aku hanya ingin bicara, kau tidak lagi sendirian karena diantara jutaan puan lain ada yang serupa denganmu. Dongengku Sendiri   Pada senyap malam aku bersaksi dalam kosong, Bicara pada longkang tempat tidur berdebu yang bisu Mengumbar senyuman pada gelap yang bergelut pengap Kukisahkan sepanjang malam tentangmu, Tanpa pernah berani menyebut siapa aku   Aku si pendongeng, Si pendamba akhir kisah bahagia Dan semesta, si pemiliki kisah milyaran makhluknya Dan ia tuliskan dengan penanya, Adalah kau si penawar pekatnya lara   Kau sebatas penawar bukan yang abadi Kau yang dikirim semesta untuk singgah lantas diminta pergi Aku si paham akan segala gulana dan kesakitan Aku si paham akan segala fana dan ketidakmungkinan Dan aku pula si paham bahwa denganmu tiada boleh ada barang setitik pengharapan   Lantas mengapa kau masih terus kudongengkan pada malam? Ku puji betapa senyumm...

Saling Bertaut Lara Kita

Gambar
Boleh aku rengkuh tubuh ringkihmu? Tolong jangan, Jangan lagi kau tolak laiknya tahun-tahun lalu Kau sudah bagai sesosok belulang rapuh Sorotmu tak lagi pancar Pelangi pada bola matamu sudah sempurna pudar Aku tlah kehilangan liat dan lincahmu Ragamu pula menjelma serakan kering yang kehilangan arah mata angin Puan... Aku tak pernah takut cantikmu suatu hari kan pudar Entah, serupa apa lusuhmu kau tetap secantik dulu Tapi jauh lebih menakutkan daripada itu, Jika esok bahumu luruh, dadamu kehilangan gemuruh Pulanglah, mari, kemari Pada bahu yang penuh pelukku Puan.... Pulanglah, mari, kemari Pada dua daun telingaku Pulanglah, mohonku sungguhan Tak tega aku membiarkanmu terkapar tanpa kesadaran Kisahkan padaku tentang apapun, berat dan kejamnya hidupmu dalam dan perih lukamu Sungguh kisahkan pada daun telingaku apapun Apa-apa yang begitu dalam kau timbun  Meski entah kapan akan berujung  Meski entah kemana hendak bermuara Biar malam-malam kita habis sama-sama menyembuhkan duka, ...

Untuk Bagaskara Wihagaratna

Gambar
Delapan belas tahun aku hidup, Masih singkat atau mungkin terlalu panjang untuk menghidupi dosa-dosaku?   pinterest Halo.... Selamat malam untuk Bagaskara Wihagaratna Bagaimana langitmu malam ini? Mendung atau sedang indah-indahnya penuh bintang? Kau tahu, aku tengah mencoba tertawa detik ini Ya, menertawakan ketidakmungkinan yang dicipta semesta untuk kita Barangkali aku satu-satunya yang tidak waras di sini Bagaimana bisa setiap malamnya aku bertanya apa di universal berbeda aku ini milikmu? Gila! Orang-orang akan bilang begitu karena aku juga menganggap diriku sendiri gila Kau tahu, entah bagaimana bisa semesta membangun sekat-sekat tertingginya diantara kita  Perlu usaha besar untuk mengahancurkannya dan aku yakin aku tak bisa Ada ruang-ruang hampa yang tak mungkin meleburkan kita Iya, kita adalah sebuah bentuk nyata ketidakmungkinan Jikalau mungkin, akan tetap ada jarak Karena kita memang dilahirkan berbeda Bahkan hidung kita turut menghidu aroma udara yang tak serupa Pad...

Parasit

Gambar
  pinterest Hari ini dia kembali. Pulang dengan tangan kosong. Pulang dengan rupa yang sesungguhnya masih sama--seolah tak pernah merasa berdosa. Aku ingat dengan jelas seringainya masih tak berubah. Menyeramkan. Dan bertepatan pula hari ini lidahku tiba-tiba kelu. Tak ada satupun ucap yang keluar dari sana. Entah, mendadak aku selayaknya orang gagu. "Hai apa kabar?" sayup-sayup kudengar suaranya bergema dalam gendang telingaku. Bulu kudukku meremang seketika. Suara-suara itu juga masih sama. Ada cekikik mencemooh selanjutnya. "Bagaimana, rindu denganku tidak?" suaranya lagi. "Aku pulang pada rumahku hari ini. Hihihihihihi," tawanya membuatku jengkel. "Ayo main denganku. Kamu tidak rindu dengan permainan-permainan kita?"  Mataku tengah menerawang kosong pada jendela. Hujan diluar sana kian menderas menyisakan embun basah di kaca jendela. Abu-abu, entah di luar atau di dalam kenapa semuanya menjadi buram. Detik itu rasa was-was menyelimutiku. Jema...